Tampilkan postingan dengan label Permainan Tradisioal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permainan Tradisioal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juli 2012

0 Bekel

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Jawa Tengah
Asal : Jawa
Bekel banyak dimainkan oleh anak perempuan. Permainan ini dapat dilakukan sendiri maupun berramai-ramai. Bekel terdiri dari sebuah bola yang terbuat dari karet, dan beberapa biji bekel yang terbuat dari logam (kuningan). Intinya adalah mengambil biji bekel secepat mungkin sebelum bola memantul 2 kali. Pada awalnya biji bekel diambil satu per satu. Kemudian diambil dua dua, dan seterusnya hingga pada akhirnya seluruh biji bekel harus diambil dalam sekali genggaman ketika bola bekel dilempar ke lantai dan memantul kembali. Setelah itu biji bekel harus di susun tegak satu per satu, dua dua dan seterusnya. Setelah itu biji bekel di susun miring ke kiri dan selanjutnya miring ke kanan.
 

0 Benteng

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Jawa Barat
Asal : Indonesia
Nama lain: Benteng/bentengan/pal-palan/pris-prisan

Definisi
Benteng adalah salah satu jenis permainan anak-anak walaupun para remaja juga suka memainkannya kadang-kadang. Permainan ini sempat populer di tahun 80 an. Entah siapa yang pertama kali menemukannya. Tidak ada catatan resmi tentang asal-usul permainan yang bikin ngos-ngosan ini.

Rules
Cara bermain benteng ini super sangat sederhana. Menurut pengamatan saya, jumlah minimal yang ideal bermain benteng adalah 8 orang. Permainan terdiri dari 2 grup. Kita sebut saja A dan B. Setelah menentukan siapa masuk grup mana (biasanya dilakukan dengan suit atau gambreng), dipilihlah lokasi masing-masing benteng. Biasanya jarak kedua benteng tidak terlalu jauh. Paling 70 – 100 meteran.

Lokasi benteng bisa dimana saja. Di ruas jalan, di lapangan, di dekat sawah, pokoknya dimana saja sepanjang kedua kubu bisa berlari diatasnya (bukan berenang). Kalau kita sih dulu seringnya di depan rumah lo ya Ti. Bentengnya di belokan depan rumah lo sama tiang listrik deket rumah Dea ato nggak tiang basket (dulu masih ada, inget kan lo Ti?). Kebetulan di komplek kita ini, cuma jalan di depan rumah Titiw yang agak lebar. Bisa multifungsi. Kadang-kadang untuk basket, bulu tangkis, catur, main gundu, ngobak genangan air, masak nasi goreng, dan banyak lagi dah.

Anyway, back to the game. Objective atau Goal dari game ini mudah gampang tralala sekali. Merebut benteng lawan dengan menyentuhnya. Seperti juga benteng sungguhan, untuk bisa menguasai benteng lawan, kita harus mengalahkan semua prajuritnya. Caranya gampang banget. Kamu harus menyentuh bagian tubuh lawan (jangan menyentuh yang aneh-aneh ya – walaupun sah secara aturan tapi tidak sah secara moral) ketika lawan itu berlari keluar dari benteng. As simple as that.

Tapi menyentuh lawan itu sulitnya bukan main loh. Begini misalnya. Di kubu B, Adi berlari keluar dari bentengnya menuju kubu A sambil berusaha either itu memancing Usup untuk mengejar untuk kemudian disentuh rekan Adi, Toni atau with any luck bisa langsung menyentuh benteng kubu A. Nah, akhirnya Usup berhasil terperangkap pancingan. Sekarang dia jadi sandera deh di benteng B. Tapi not to worry my brethren, Usup masih bisa diselamatkan. Si Usup harus berdiri sambil menyentuh benteng lawan sambil stretch tangan atau kakinya sejauh mungkin (waduh kalo pas lagi disandera biasanya kaki kita pegal-pegal) agar teman seperjuangannya, Fitra bisa menyentuhnya untuk membebaskan Usup. Begitu seterusnya sampai akhirnya salah satu benteng bisa direbut. Perlu dicatat, dalam proses pembebasan hingga menuju bentengnya, si sandera menjadi invulnerable atau kebal. Jadi lawan tidak boleh menyentuhnya dulu hingga si sandera balik dan menyentuh bentengnya.

Kalah Tua
Seseorang bisa menyentuh lawannya dan menyanderanya, jika lawan keluar dari benteng atau literally melepaskan tangannya dari benteng, entah itu berlari, berjalan atau dia mungkin lupa kecapean duduk di deket bentengnya tanpa menyentuhkan tangannya ke benteng. Orang yang keluar duluan dari Benteng berarti “kalah tua” dengan orang (lawan) yang keluar dari benteng belakangan. Jadi si “kalah tua” harus berusaha sengos-ngosan mungkin supaya si “menang muda” (gw ngarang doang kalo istilah menang muda ini, biar gampang dibedain) tidak bisa mengejarnya. Si “kalah tua” harus menyentuh kembali bentengnya agar dia “kembali muda” dan menjadi “menang muda” sehingga bisa balik mengejar.
 

0 Congklak

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Jawa Tengah
Asal : Indonesia
Permainan congklak merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang biasanya perempuan. Alat yang digunakan terbuat dari kayu atau plastik berbentuk mirip perahu dengan panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. Pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Diantar keduanya terdapat lubang yang lebih kecil dari induknya berdiameter kira-kira 5 cm. Setiap deret berjumlah 7 buah lubang. Pada setiap lubang kecil tersebut diisi dengan kerang atau biji-bijian sebanyak 7 buah.
Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan, jika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis dikumpulkan. Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian ke lubang induk miliknya. Permainan ini merupakan sarana untuk mengatur strategi dan kecermatan.

0 Dadu Batak

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Sumatera Utara
Asal : Tapanuli
Dadu yang terbuat dari gading gajah, biasa digunakan oleh para raja Batak dahulu kala untuk bermain judi.
 

0 Tak Batok

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : DKI Jakarta
Asal : Betawi
Permainan Tak Batok

Tak batok merupakan lomba ketangkasan berjalan mengunakan alas berupa batok kelapa yang dipotong setengah bulatan.
 
quicchote_tak_batok.JPG
Permainan tak batok khas betawi di pergelaran festival monas, Jakarta.
Foto: KOMPAS

0 Boy-boyan

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Jawa Barat
Asal : Sunda
Permainan tradisonal dengan total lima sampai sepuluh orang. Model permainannya yaitu menyusun lempengan batu, biasanya diambil dari pecahan genting atau pocelen yang berukuran relatif kecil. Bolanya bervariasi, biasanya terbuat dari buntalan kertas yang dilapisi plastik, empuk dan tidak keras, sehingga tidak melukai. Satu orang sebagai penjaga lempengan, yang lainnya kemudian bergantian melempar tumpukan lempengan itu dengan bola sampai roboh semua. Setelah roboh maka penjaga harus mengambil bola dan melemparkannya ke anggauta lain yang melempar bola sebelumnya. Yang terkena lemparan bola yang gatian menjadi penjaga lempengannya.
 

0 Marjalekkat (Enggrangnya Suku Batak)

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Sumatera Utara
Asal : Sumatera Utara
Marjalekkat Adalah Sebuah Permainan Tradisional yang berasal dari Sumatera Utara tepatnya di daerah sekitar Danau toba . Permainan ini sudah ada sejak dulu (untuk keterangan tahun belum lengkap) . Marjalekkat pada dasarnya sama dengan Enggrang , namun untuk di wilayah Sumatera Utara khususnya di wilayah yang bersuku batak , permainan ini disebut dengan Marjalekkat . Sama halnya seperti Enggrang , Bahan untuk pembuatannya sama yaitu bambu .

Marjalekkat merupakan permainan tradisional yang cukup populer di masyarakat Batak . Permainan ini selalu di perlombakan di Pesta pesta budaya Sumatera Utara seperti Pesta Danau Toba , Pesta Rondang Bittang dsb . Hal tersebut bertujuan agar Permainan ini tidak hilang begitu saja .
 

0 Cublak Cublak Suweng

Kategori : Permainan Tradisional
Element Budaya : Permainan Tradisional
Provinsi : Jawa Tengah
Asal : jawa tengah
Cara Bermain Cublak-cublak Suweng Permainan ini dimainkan olehbeberapa anak/orang, tetapi minimal tiga orang. Akan tetapi lebih baik antara 6 sampai delapan orang. Tujuan dari permainan ini adalah Pak Empo menemukan anting (suweng) yang disembunyikan seseorang.


Pada awal permaianan beberapa orang berkumpul dan mengundi/ menentukan salah satu dari mereka untuk menjadi Pak Empo. Biasanya pengundiannya melalui pingsut/encon/undian biasa. Setelah ada yang berperan sebagai pak Empo. Maka mereka semua duduk melingkar. Sedangkan Pak Empo berbaring telungkup di tengah-tengah mereka. Masing-masing orang menaruh telapak tangannya menghadap ke atas di punggung pak Empo.


Salah seorang dari mereka mengambil kerikil atau benda (benda ini dianggap sebagai anting). Lalu mereka semua bersama-sama menyanyikan cublak-cublak suweng sambil memutar kerikil dari telapak tangan yang satu ke yang lainnya. begitu terus sampai lagu tersebut dinyanyikan beberapa kali (biasanya 2-3 kali).


Setelah sampai di bait terakhir ...Sir-sir pong dele gosong pak Empo Bangun dan pemain lainnya pura-pura memegang kerikil. Tangan kanan dan kiri mereka tertutup rapat seperti menggenggam sesuatu. Hal ini untuk mengecoh pak Empo yang sedang mencari ”suwengnya”. Masing-masing pemain mengacungkan jari telunjuk dan menggesek-gesekkan telunjuk kanan dan kiri (gerakannya) persis seperti orang mengiris cabe. Mereka semua tetap menyanyikan Sir-sir pong dele gosong secara berulang-ulang sampai pak Empo menunjuk salah seorang yang dianggap menyembunyikan anting.


Ketika pak Empo salah menunjuk maka permainan dimulai dari awal lagi (pak Empo berbaring). Dan ketika pak Empo berhasil menemukan orang yang menyembunyikan antingnya maka orang tersebut berganti peran menjadi pak Empo. Permainan selesai ketika mereka sepakat menyelesaikannya.
 
deeres_img01890_20110402_1310.jpg
 

BELAJAR BUDAYA INDONESIA Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates